blog sederhana jhi kodong

Halaman

Minggu, 18 November 2012

PENGANTAR LOGIKA

 
Titel buku ini LOGIKA, namun dari bahasan didalam terdapat beberapa materi yang bersentuhan langsung dengan filsafat ilmu. Materi yang bersentuhan itu terkait dengan "Kerancuan Pikir" ( Fallacy). Buku ini membekali orang untuk memahami cara berpikir deduksi, yang meletakkan nalar/rasio dalam mencerna kebenaran. Khusus yang membicarakan kerancuan pikir, buku ini meletakan bahasan di halaman 59- 67. tepatnya di bab enam tentang kerancuan berpikir.
Merujuk dari pemikiran Irving M Copi (introduction to logic, 1959:51). Dalam buku itu diaungkap berbagai bentuk arguymen yang rancu, dan selajutnya dikelompokkan menjadi dua besar, yakni;
1. Formal Fallacy atau Kerancuan Formal
2. Informal Fallacy atau Kerancuan Informal.
Kerancuan Revelansi adalah kerancuan pada argumen yang premis-premisnya secara logikal tidak relevan. secara substansial ridak ada sangkut pautnya dengan kebenaran atau kesalahan dari kesimpulan yang mau ditegakkan oleh premis-premis yang diajukan.

Artinya, antara premis-premis dan kesimpulan tidak terdapat hubungan logikal. Cara penyampaian mempengaruhi aspek psikologis sehingga antara premis dan kesimpulan terdapat hubungan logikal.

Irving M. Copi mengemukakan 10 jenis Kerancuan Relevansi:

1. Konklusi Tidak Relevan/Irrelevant Conclusion/Ignoratio Elenchi
Terjadi bila 1 argumen yang seharusnya dimasukan tidak mendukung 1 kesimpulan tersebut, namun diarahkan dan digunakan untuk membenarkan 1 kesimpulan yang lain.

2. Merujuk kekuatan/Argumentum ad Baculum/Appeal to Force
Terjadi bila orang dengan mendasarkan diri pada kekuatan/ancaman penggunaan kekuatan memaksakan agar 1 kesimpulan diterima atau disetujui.

3a. Argumentum ad Hominem/Abusive
Terjadi bila suatu argumen diarahkan untuk menyerang pribadi orangnya, dengan menunjukkan kelemahan/kejelekan orang tersebut dan tidak berusaha secara rasional membuktikan bahwa apa yang dikemukakan orang yang diserang itu salah.

3b. Argumentum ad Hominem/Circumstantial
Terjadi sebuah argumen diarahkan pada pribadi orangnya dalam kaitan dengan situasi/keadaan orang itu sendiri.

4. Argumentum Ignorantiam
Terjadi bila suatu hal dinyatakan benar semata-mata karena belum dibuktikan bahwa hal tersebut salah/sebaliknya suatu dinyatakan salah karena belum dibuktikan bahwa hal itu benar.

5. Argumentum ad Misericordiam/Appeal to pity/Rasa Iba
Terjadi bila rasa kasihan digugah untuk mendorong diterimanya /disetujuinya suatu kesimpulan. Terjadi pencampuradukan perasaan dan jalan pikiran orang sehingga terdorong untuk menyetujui/tidak menyetujui sesuatu.

6. Argumen ad Populum
Terjadi bila orang berusaha mengemukakan dan memenangkan dukungan untuk suatu pendapat/pendirian dengan jalan menggugah perasaan/emosi; membangkitkan semangat berkobar-kobar pada masyarakat.

7. Argumentum ad Verecundiam
Terjadi bila usaha memperoleh kebenaran/dukungan atas suatu kesimpulan/pendapat dilakukan dengan jalan mendasarkan diri pada kewibawaan orang terkenal, namun keahlian terletak di bidang lain.

8. False Cause/Kausa Palsu
Terjadi dengan cara menyatakan adanya hubungan kausal (sebab-akibat) antara 2 hal pada hubungan kausal itu tidak ada.

9. Complex Question/Pertanyaan Majemuk
Terjadi bila diajukan 1 pertanyaan majemuk tapi kemajemukannya tidak diketahui/ dikaburkan dan untuk pertanyaan tersebut dituntut hanya 1 jawaban tunggal.

10. Begging the Question/ Petitio Principii
Mengasumsikan kebenaran dari apa yang mau dibuktikan sebagai benar dalam upaya untuk membuktikan kebenarannya. Sering penggunaan kata-kata untuk mengungkapkan argumen ini mengaburkan fakta bahwa tersembunyi dalam salah 1 dari premis-premis yang diasumsikan tercantum kesimpulan.

Berpikir Kreatif Pecahkan Masalah>> Blog Berbagi


BLOG BERBAGI - Unsur kreatif diperlukan dalam proses berpikir untuk menyelesaikan masalah. Semakin kreatif seseorang, semakin banyak alternatif penyelesaiannya.

Berpikir merupakan instrumen psikis yang paling penting. Dengan berpikir, kita dapat lebih mudah mengatasi berbagai masalah hidup. Dalam proses mengatasi suatu masalah, kita sering berpikir dengan cara berbeda-beda. Para psikolog dan ahli logika mengenal beberapa cara berpikir. Namun, tidak semua efektif bagi setiap masalah.

Berpikir kreatif merupakan suatu cara yang dianjurkan. Dengan cara itu seseorang akan mampu melihat persoalan dari banyak perspektif. Pasalnya, seorang pemikir kreatif akan menghasilkan lebih banyak alternatif penyelesaian masalah.

Menurut J.C. Coleman dan C.L. Hammen (1974), berpikir kreatif merupakan cara berpikir yang menghasilkan sesuatu yang baru —dalam konsep, pengertian, penemuan, karya seni.

D.W. Mckinnon (1962) menyatakan, selain menghasilkan sesuatu yang baru, seseorang baru bisa dikatakan berpikir secara kreatif apabila memenuhi dua persyaratan:

Pertama, sesuatu yang dihasilkannya harus dapat memecahkan persoalan secara realistis. Misalnya, untuk mengatasi kemacetan di ibu kota, bisa saja seorang walikota mempunyai gagasan untuk membangun jalan raya di bawah tanah. Memang, itu baru, tapi untuk ukuran Indonesia membuat jalan raya di bawah tanah tidak realistis. Dalam kasus ini sang walikota belum dikatakan kreatif.

Kedua, hasil pemikirannya harus merupakan upaya mempertahankan suatu pengertian atau pengetahuan yang murni. Dengan kata lain, pemikirannya harus murni berasal dari pengetahuan atau pengertiannya sendiri, bukan jiplakan atau tiruan. Misalnya, seorang perancang busana mampu menciptakan yang unik memesona. Perancang itu dapat disebut kreatif asalkan rancangan itu memang benar-benar ide dan karyanya, bukan mencuri gagasan orang lain.

Untuk bisa berpikir secara kreatif, si pemikir sebaiknya berpikir analogis. Jadi, proses berpikirnya dengan cara menganalogikan (mengumpamakan) sesuatu dengan hal lain yang sudah dipahami. Kalau menurut pemahaman si pemikir, kesuksesan adalah keberhasilan mencapai suatu tujuan, maka saat ia berpikir, kesuksesan adalah keberhasilan mencapai suatu tujuan, maka saat ia berpikir tentang kesuksesan, ciri-ciri berupa “berhasil mencapai tujuan” menjadi unsur yang dipertimbangkan.

Misalnya, seseorang dikatakan sukses bila ia dengan bekerja keras telah berhasil mencapai tujuan yang jelas sulit bagi seseorang untuk bisa sukses. Namun, karena setiap orang mempunyai tujuan yang berbeda, maka standar kesuksesan pun berbeda-beda.

Di samping berpikir secara analogis, untuk berpikir kreatif si pemikir juga harus mengoptimalkan imajinasinya untuk mereka-reka berbagai hubungan dalam suatu masalah.

Dengan ketajaman imajinasi, kita dapat melihat hubungan yang mungkin tidak mudah atau bahkan tidak dapat terlihat oleh orang lain. Contohnya, Einstein melihat ada hubungan antara energi, kecepatan, dan massa suatu benda. Newton melihat ada hubungan antara apel yang jatuh dan gaya tarik bumi. Seorang pemuda Indonesia, Baruno, melihat adanya hubungan antar keahliannya membuat kerajinan tangan dari bahan enceng gondok, sandal, dan uang.

Seseorang yang mempunyai tingkat kreativitas yang tinggi, sering kali menghasilkan pikiran yang luar biasa, aneh, dan terkadang dianggap tidak masuk akal. Bahkan karena keluarbiasaannya itu , tidak sedikit orang yang menganggapnya gila.

Menurut Jalaluddin Rakhmat (1980), ada kesamaan antara orang kreatif dan orang gila karena cara berpikirnya yang tidak konvensional. Bedanya, orang kreatif mampu melakukan loncatan pemikiran yang menimbulkan pencerahan atau pemecahan masalah. Akan tetapi orang gila tidak mampu melakukannya.

Sabtu, 17 November 2012

kerangka berfikir

sebelum kita mendefenisikan judul diatas kita harus tau apa itu definisi
DEFINISI : membatasi sesuatu. artinya kita menjelaskan sesuatu mempunyai batasan-batasan
definisi kerangka : susunan yang sistematis
definisi sistematis: Teratur
definisi berfikir:proses kerja otak
definisi Kerja menurut :
                         newton       : berpindahya dari satu tempat ke tempat lain
                         zeno           : diam itu sendiri
                         mula sadra :mengaktualnya potensi
sumber pengetahuan
   ada beberapa mazhab tentang sumber pengetahuan
              1.skriptualisme=teks
artinya kebenaran mutlak ada pada teks, pemahaman skriptualisme lebih mengandalkan teks, berkesimpulan bahwa idealisme tidak bisa di pakai untuk mencari kebenaran.
            2.empirisme = indra-pengalaman
artinya kebenaran mutlak yang dapat di indrai / ssuai dengan pengalaman
            3. rasionalisme :masuk akal
syarat rasionalisme
              -objektif
              -universal
              -analisis
             -sistematis


mungkin hanya itu yang dapat saya tulis sebagai dasar kerangka  berfikir, jangan menutup mata karna kekurangannya,dan jangan ikuti kesalahannya.terimah kasih